Kisah Sukses Indra Sjafri: Menepis Cara Berfikir Biasa

- 10/11/2017
Indra Sjafri (foto tribunnews)

Soreini.com, Pada saat masyarakat Indonesia mulai lelah karena buruknya prestasi tim sepak bola Indonesia yang selalu berujung dengan kekalahan dan kualitas permainan yang kurang baik, Indra Sjafri membuka sebuah harapan melalui tim usia muda, namanya mulai menjadi viral saat tim didiknya berhasil menjuarai AFF U-19 pada tahun 2013. Bahkan pada kualifikasi Piala Asia AFC U-19 2014, para anak didik Indra mampu menjadi juara grub G dengan mengalahkan Korea Selatan.

Pada tahun 2017 ini meski Timnas Garuda Nusantara hanya puas menempati posisi ke-3, kualitas permaian Timnas Garuda U-18 cukup memukau, pada setiap pertandingan menunjukkan statistik yang lebih baik dibanding tim lawan. Kemampuan meracik dan mengatur strategi Indra Sjafrie cukup handal, terbukti dengan banyak pujian pada Timnas Garuda U-18 sampai membuat frustasi pelatih Timnas Myanmar U-18 sebagai tuan rumah AFF U-18.



menurunya prestasi Timnas karena kurangnya bibit bibit muda
Indra Sjafri sangat peduli dengan pembinaan bibit muda karena menurutnya, menurunya prestasi Timnas karena kurangnya bibit bibit muda, hal ini menggerakkan Coach Indra memiliki keinginan besar melatih para pemain muda.
Pada tahun 2013 Indra Sjafri sempat dicopot sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19 karena konflik yang terjadi pada tubuh PSSI, namun tak lama kemudian Indra Sjafri kembali lagi dipercaya untuk melatih Timnas U-19.

Prestasi timnas  Indonesia U-19 terus bergulir, berawal pada tahun 2010 timnas U-17 berhasil menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament di Hong Kong.

Setahun kemudian tim ini bermetamorfosis dari U-17 menjadi U-18, masih tetap ditangan Indra Sjafrie, Evan Dimas dan tim berhasil mempertahankan gelarnya dalam HFKA International Youth Football Invitation Turnamen pada Febuari 2013.

Setelah ditahan 2-2 oleh Singapura dan menang 2-0atas Hong Kong, Gavin Kwan Adsit cs pun berhasil menjadi pemuncak klasemen akhir usai bermain kaca mata dengan Malaysia. Meskipun memiliki nilai yang sama (5 poin), Indonesia berhasil mengatasi Malaysia dengan selisih gol memasukkan-kemasukan 4-2 berbanding 3-1. Bukan hanya gelar juara, Gavin dan Mariando didaulat sebagai pemain terbaik.

Kedua keberhasilan tersebut dianggap sebagai kejutan, karena semua persiapan sangat minim, bahkan pada ajang HKFA U-18 persiapan tim hanya sepekan menjelang keberangkatan ke Hongkong.
(https://sport.detik.com)

Blusukan Mencari Pemain

Tidak seperti pelatih timnas pada umumnya, Indra Sjafri lebih memilih mencari pemain dengan cara blusukan kedaerah-daerah bukan mencari di klub-klub sepakbola. Bagi Indra Sjafri blusukan seolah adalah satu-satunya pilihan.

"Blusukan itu akibat tidak adanya sistem yang bagus, tidak adanya kompetisi yang berjenjang,” ungkapnya, berterus-terang.

Upaya ini mulai ia lakukan setelah gagal membawa U-16 lolos kualifikasi AFC U-16 pada tahun 2011. Meski awalnya Indra Sjafri sudah diberikan 50 nama yang sebagian besar berasal dari Ibu kota Jakarta dan Sekitarnya, bagi Indra hal itu tidak mencerminkan kekuatan Indonesia yang sebenarnya.

Ide Blusukan Mencari Pemain Berbakat di Remehkan Bayak Orang

Pada saat muncul pemikiran untuk blusukan mencari pemain berbakat ke daerah-daerah justru dipandang remeh oleh beberapa orang, banyak mengatakan sulit mencari pemain berbakat dikampung-kampung.

Menanggapi hal tersebut Indra memiliki perspektif yang berbeda, menurutnya dikampung-kampung banyak pemuda yang terus latihan karena banyak fasilitas, banyak lapangan terbuka untuk bermain bola, sedangkan di kota kapan orang akan bermain bola.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Indra Sjafri menceritakan pengalaman yang ia alami pada saat blusukan ke kampung-kampung. Pada saat dirinya melalukan pemantauan ia menemui beberapa anak yang merasa senang luar biasa, pasalnya mereka tidak pernah mengikuti seleksi atau kompetisi.
”Jadi mulai lahir dan terus bermain bola ya di kampung itu terus,” ungkapnya, agak getir.
(BBC)






Advertisement
comments