Mengungkap Sosok Susi Pudjiastuti, Si Pembakar Kapal Nelayan Asing



Soreini.com, Nama Susi Pudjiastuti beberapa kali menjadi perbincangan, namun yang paling menjadi viral sekaligus mengundang kontroversi pada saat dirinya diangkat sebagai Menteri Kelautan dalam Kabinet Presiden Jokowi. Bagaimana tidak menarik perhatian, karena baru pertama kali di Indonesia muncul sosok menteri wanita yang bertato sekaligus merokok, selain kedua hal tersebut Susi Pudjiastuti memiliki perilaku yang dinilai seenaknya oleh beberapa kalangan. Siapakah Susi Pudjiastuti sebenarnya, berikut ulasannya.

Menelusuri Jejak Skripsi Jokowi

Susi Pudjiastuti adalah seorang wanita putus sekolah, tepatnya pada tahun 1982 ia meninggalkan bangku sekolah pada waktu kelas 2 SMA. Menurutnya seorang lulusan SMP sulit untuk mendapatkan pekerjaan, seandainya ia bekerja paling hanya sebatas menjadi cleaning servis. 

Menurutnya putus sekolah merupakan sebuah kesalahan besar, namun ia tidak menyesalinya karena putus sekolah bukan akhir dari segalanya. Dari hal tersebut Susi Pudjiastuti menciptakan sebuah usaha.

Awalnya untuk bertahan hidup Susi berjualan bed cover, cengkeh, hingga akhirnya menjual ikan hasil tangkapan para nelayan. Hal ini yang menggiring ia sehingga fokus di bisnis lobster hasil tangkapan nelayan. 
AMP HTML
Menurutnya tantangan dari peluang bisnis lobster ini adalah membawa hasil tangkapan lobster dari pangandaran menuju jakarta untuk diekspor keluar negeri, pasalnya untuk menuju jakarta harus melalui perjalanan berjam-jam yang berisiko angka kematian tinggi. 

Dengan penuh kegigihan susi bertekat menerbangkan lobster-lobster hidup tadi dengan pesawat kecil ke Jakarta. Keyakinan, keberanian seperti inilah yang membuat saya bertahan dan menjadi seperti sekarang ini; membawa pesawat-pesawat kecil saya menembus pedalaman, pelosok Indonesia.

Pemimpin masa depan, saya tahu tidaklah mudah memulai sebuah usaha di negeri kita tercinta ini. Begitu banyak barikade yang harus kita hadapi, dari regulasi yang tidak fleksibel, paper work exercise yang berlapis yang mencekik kita, bahkan setelah kita menjadi sebesar sekarang.

Bagi Susi sebuah tantangan hidup harus berani kita hadapi, Sangatlah tidak pantas di negeri yang kaya raya; kita menjadi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Sumber daya apa yang kita tidak punyai di negeri ini?

Dia sadar, bahwa dirinya adalah orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.