Kenali Bahaya Stockholm Symdrome

Soreini.com, Pernah denger curhat salah seorang teman yang merasa jengkel atau marah pada pasangan karena sering membuat masalah, namun tidak juga bisa mengakhiri hubungan. Atau bisa jadi anda yang mengalami hal ini. Bahkan beberapa orang sampai melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan pacarnya yang menguras kesabaran, namun tetap juga tidak bisa untuk memutuskan hubungan dengan pacar. Jika anda atau teman anda mengalami hal tersebut perlu waspada, karena ada kemungkinan anda mengalami sindrom Stockholm.

Stockholm Symdrome bisa menyerang siapa saja, Dilansir dari BBC News, istilah Stockholm Syndrome muncul sekitar tahun 1970-an saat terjadi pengepungan bank dengan menyandera para pegawainya selama 6 hari. Anehnya, para korban tidak marah bahkan ada salah satu wanita yang jatuh cinta dengan sang penyandera hingga rela meninggalkan tunangannya.

Istilah ini juga melekat dengan sosok Patty Hearst, pewaris koran California yang diculik oleh militan revolusioner pada tahun 1974. Uniknya, gadis ini justru bergabung dengan komplotan penculiknya dan ikut melibatkan diri dalam aksi perampokan hingga akhirnya Patty Hearst pun dipenjara.

Stockholm ini sering dikaitkan dengan kasus penyanderaan dan melibatkan seorang wanita. Sebuah kasus yang pernah dimuat di The New York Times tentang seorang wanita bernama Withelman Ortiz atau sering di panggil dengan T, ketika umur 10 ada seorang pria yang menjajikan dia mampu mengubah hidupnya. Dengan latar keluarga yang broken, bahkan ayah T sendiri dipenjara. T tertark dengan janji pria tersebut. Hidup T pun berubah dari segi ekonomi, namun perubahan tersebut dengan cara menjual T ke pria hidung belang di sekitar the West Coast

Lima tahun kemudia, aksi si pria tersebut tercium oleh polisi dan ia pun ditangkap. Dalam sebuah persidangan T justru tidak mau memberikan keterangan padahal ia adalah korban perdagangan.

Dari kasus-kasus semacam ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Stockholm Syndrome merupakan penyakit psikologi di mana seseorang tetap menyukai bahkan mencintai orang yang 'menganiaya' mereka karena menerima hal tersebut sebagai takdir yang harus dijalani.


Kejadian semacam ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak menutup kemungkinan pada diri anda, Stockholm Syndrom membuat seseorang seperti hilang kesadaran, bahkan seseorang yang diperlakukan kasarpun tetap saja tidak mau meninggalkan sang kekasih. Biasanya setelah korban diperlakukan kasar, si pasangan akan meminta maaf dan memberi alasan bahwa ia takut kehilangan.

Biasanya para pengidap Stockholme Syndrome ini akan menarik diri dari lingkungan karena dominasi kontrol dari pasangan. Seolah-olah hidupnya dalam genggaman pasanga dan beranggapan apa yang dilakukan oleh pasanganya adalah bukti cinta kepada korban.

Jika sudah terjerumus dalam Stockholm Syndrome, akan sulit untuk lepas dari situasi tersebut, kecuali disadarkan oleh terapis atau menemui kejadian yang telak menampar kesadaranmu.

Di Indonesia sendiri banyak kasus Stockholm Syndrome yang mengakibatkan pada kekerasan bahkan kematian. Jika anda menjumpai kasus semacam ini segera konsultasikan pada Psikiater atau Psikolog dan bantulan korban Stockholm Syndrome agar terbebas.

Biasanya Para korban Stockholm Sydnrome akan mengalami trauma setelah keluar dari 'Zona Segitiga Bermuda' tersebut seperti krisis kepercayaan diri, takut jatuh cinta lagi, merasa kurang berharga, dan masih banyak lagi. Bahkan, jika korban tersebut tengah membaca tulisan ini pun, Ia merasa bahwa Ia sama sekali tidak mengalaminya alias denial. (sumber,penuliscabutan)