Melancong ke Timur Indonesia


catatan perjalanan : Thomas Pareh

Soreini.com, Saya sering mendengar keindahan Kawah Tiga Warna Kelimutu di Ende, Flores - Nusa Tenggara Timur, dan sangat penasaran ingin menyaksikan langsung dari dekat. Sebuah perjalanan ke sana pun saya atur melalui rute Maumere yang lebih nyaman ditempuh.

Penerbangan ke dan dari Maumere tidak tersedia setiap hari, jadi pastikan tiket pulang sudah ada di tangan anda pada saat mengatur perjalanan. 

Pesawat yang saya tumpangi sempat transit di Bali, sebelum akhirnya mendarat di Bandara Frans Seda pada jam 15.00 waktu  setempat (waktu NTT lebih awal 3 jam dari pada Jakarta).

Maumere
Menumpang taksi dari bandara, saya bergerak menuju hotel yang sudah direservasi minggu sebelumnya. Meskipun Maumere hanya memiliki dua hotel, namun kondisinya sangat baik dan menyediakan wifi. Sementara itu transportasi cukup beragam, mulai dari ojek, bus, dan mobil pribadi sewaan yang disebut 'taxi'.

Siang itu juga, setelah check in di hotel, saya langsung menuju Pantai Kajuwulu, tidak jauh dari kota, dengan ojek. Walaupun banyak bebatuan dan warung di sepanjang jalan yang menjual minuman Moke, khas setempat, dan jagung bakar, pantai berpasir hitam ini cukup bersih. Selain itu, dari kejauhan terlihat bukit dengan salib diatasnya.

Karena masih ada waktu, saya coba berjalan ke Pelabuhan L Say, yang cukup sibuk dengan pelayaran kargo, untuk melihat sunset. Saat perut terasa mengajak makan, saya pun mencari kuliner khas Maumere: ikan bakar dengan ubi atau pisang goreng, di sepanjang jalan Gajah Mada. Tidak lupa saya mencicipi Moke yang sangat nikmat, apalagi diminum dalam udara dingin malam itu.

Kawah Kelimutu, Ende.

Hari ini adalah inti dari perjalanan saya ke wilayah timur Indonesia: trip ke Kawah Kelimutu di Ende. Dini hari jam 03.00 WIT, taksi sudah tiba di hotel, siap membawa saya untuk menempuh perjalanan  3 jam ke Ende. Target kami tiba di Kelimutu bertepatan dengan terbitnya matahari untuk melihat pemandangan tercantik.

Kami tiba di pelataran parkir wisata  Kelimutu sekitar jam 06.00 WIT, disambut udara sejuk nan bersih. Pengunjung sudah ramai dan siap mendaki menuju Kawah Kelimutu yang pada saat tertentu warna airnya dapat berubah.


Dibutuhkan stamina yang fit untuk mencapai dua kawah yang berdekatan, yaitu Tiwu Nua Mori Ko'o Fai dan Tiwu Ata Polo. Untuk mencapai kawah yang ke-3, beberapa anak tangga yang dilengkapi dengan railing/ pegangan tangga.

Perjuangan mendaki sampai kawah ketiga setimpal dengan pemandangan memukau yang membentang. Kawasan wisata sangat bersih dan terawat, begitu juga para pedagang yang berjualan dengan tertib di sana. Terbayar sudah rasa penasaran akan keindahan Kawah Kelimutu, yang bahkan lebih indah daripada foto-fotonya di internet.

Sesuai kesepakatan dengan Pak Frans, sopir taksi saya, sebelum kembali ke hotel, kami akan singgah di beberapa tempat yang cukup terkenal di Maumere. Pertama kami mampir ke Desa Lela, Sikka, melihat gereja tertua peninggalan Portugal dan kerajinan tenun ikat dengan pewarnaan alami dari tanah dan dedaunan.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Paga, di mana terdapat rumah adat dengan pelataran luas, tempat berbagai acara atau pesta biasa diadakan. Selanjutnya kami ke Pantai Koka yang sangat menakjubkan dengan hamparan pasir putihnya. Masih ada Bukti Nilo dengan patung Bunda Maria di puncaknya, juga museum Biko Blewut dalam kawasan Seminari Ladalero.

Larantuka, Flores Timur

Perjalanan ke Larantuka  melewati Pantai Wairterang yang sangat  sejuk oleh rimbunya pepohonan menjadi tempat bermain kumpulan monyet dari atas bukit. Dilanjutkan ketempat pusat seminari di Pantai Patiahu.  Disekitar kawasan itu terdapat pula Air Terjun Nagitana, Pemandian air panas  Blidit, dan banyak wisata lainya. Setiap tahun pada Hari Raya Paskah sering diadakan perayaan dilarantuka.

Tak lupa menikmati kuliner khas Larantuka, saya mencoba camilan  jagung titi, kue rambut, juga jagung bose yang dimasak dengan daging asap atau ikan goreng. Saking enaknya saya berencana makan lagi keesokan harinya.Selepas makan kami kembali ke Maumere melewati Taman Kota Larantuka dan  Pantai Oa di Kecamatan Wulanggiting.


Back To Jakarta

Penerbangan ke Jakarta menempuh rute transit di Kupang dan Surabaya. Sebelum meninggalkan langit Maumere, saya berujar dalam Bahasa Ende seadanya, "Epong gawang 

Maumere-Larantuka, lu'at rema rua koitaregang wi'it walong" (terimakasih Maumere-Larantuka, sampai ketemu di lain waktu dan lain kesempatan)
(Sumber BetterHealth)