Otak Anak-anak Kekinian, Susah Memahami Laku Spiritual Bung Karno

Otak Anak-anak Kekinian, Susah Memahami Laku Spiritual Bung Karno

Soreini.com - Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno seringkali dikira mempunyai jimat atau amalan tertentu sehingga selamat dari percobaan pembunuhan.

Banyak yang mengatakan, Bung Karno, atau Putera Sang Fajar ini mempunyai daya magis untuk memikat hati seorang perempuan. Hal ini bisa ditelusuri dari literatur yang ada, dan akan didapatkan daftar istri-istrinya.

Ditambah lagi tentang kharisma Bung Karno, dunia mengakuinya sebagai seorang pemimpin yang mempunyai kharisma.

Bung Karno juga dinilai mempunyai benda-benda pusaka, semisal tongkat komando yang mempunyai daya magis.

Mengulas apa yang ada di literatur, semua yang berbau klenik seringkali dipersepsikan dengan pribadi Bung Karno, namun sesungguhnya apa yang dipersepsikan jauh dari kenyataan yang ada, dalam literatur yang lain, Bung Karno dikenal sebagai sosok yang realistis.

Keris Sakti


Pernah suatu ketika, Bung Karno ditawari sebuah keris sakti “mandraguna” dari seorang paruh baya bernama Harjo. Pria tua itu kemudian menunjukkan keris miliknya yang ingin dipersembahkannya dengan “pamrih”, sebuah mobil pada Bung Karno.

“Ah, soal mobil gampang. Kamu mengatakan keris ini sakti? Coba cabutlah dan minta agar segera turun hujan, sehingga taman dan pohon-pohon bisa subur lagi. Dua mobil kusiapkan untukmu,” cetus Bung Karno.

Sang pria tua itu pun mendadak tertunduk dan panik. Melihat gelagat itu, Bung Karno mengembalikan keris yang dipegangnya itu untuk disimpan sendiri saja.

Bicara keris sebagai barang pusaka, diketahui beliau sedianya punya beberapa koleksi keris yang diberikan salah satu pamannya pada tahun 1920-an. Beliau menyimpannya sebagai titipan belaka dan dikembalikan pada 1964 kepada cucu sang paman.

Soal publikasi, Soekarno sendiri sedikitnya ada satu foto ikonik Soekarno yang tengah memegang keris. Dalam foto itu, Bung Karno memegang keris saat berbusana Angkatan Laut dan terdokumentasi foto resmi kepresidenan pada 1955.

Tongkat Komando Bertuah?


Lantas kalau tongkat komandonya yang selalu dipegang atau dikempit di lengan hingga dianggap orang punya kesaktian? Soekarno punya cerita sendiri di mana saat itu beberapa orang bertanya langsung.

Selain Menteri Transmigrasi dan Koperasi (Mentranskop) Achadi, Presiden Kuba (mendiang) Fidel Castro pun pernah menanyakannya. “Apa tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?,” tanya Castro pada Soekarno pada suatu ketika.

“Itu hanya kayu biasa yang saya gunakan sebagai bagian dari penampilan sebagai pemimpin dari sebuah negara besar,” jawab Soekarno.

Soekarno pribadi sedikitnya punya tiga tongkat komando. Satu yang lazim dibawa ke luar negerio, satunya lagi untuk dibawa saat bertemu para jenderalnya, sedangkan yang ketiga biasa dibawa kala berpidato.

Salah satunya diketahui merupakan hadiah dari Presiden Filipina Epidio Quirino. Tongkat komando yang pernah dianggap “berisi” oleh Mentranskop Achadi.

“Di, itu tongkat biasa saja. Tidak ada apa-apanya. Presiden Quirino yang menghadiahkannya saat kunjungan ke Filipina. Aku senang dengan keindahan, bentuk dan ukirannya,” terang Soekarno saat tongkatnya dipegang Achadi.

“Itu bohong (kalau tongkatnya punya khasiat), enggak benar itu. Kalau tidak percaya, boleh kamu pinjam pada waktu inspeksi transmigran,” imbuhnya yang langsung disambut penolakan secara halus oleh Achadi.

Sisi Spiritual Soekarno


Masih banyak kalau mau dijabarkan kisah-kisah yang bersifat klenik tentang Soekarno. Namun penulis kisah-kisah humanis tentang Soekarno, Roso Daras, memilih melihat aspek itu sebagai aspek spiritual, bukan mistik.

“Kalau saya lihat pemimpin zaman dulu, memang tirakatnya kuat ya. Beda antara mistik dengan spiritual. Soekarno kalau saya sebut, dia pribadi yang spiritual. Ketika orang melihat dia melakukan hal yang klenik, sebenarnya yang dia lakukan itu spiritual,” jelas Roso Daras diwartakan Okezone.

“Tapi dalam kesehariannya, dia itu realistis. Kalau Soekarno selalu bilang, jangankan benda, semua kamu bacakan (Surah) Al-Fatihah, pasti akan ada ‘isinya’. Kalau benda-benda pusaka, memang ada yang dia koleksi yang asalnya dari pemberian, ada yang dia beli sendiri, seperti beberapa patung atau lukisan,” imbuhnya.

Memang jika bicara soal aspek spiritual, jangan dulu kita menyandingkannya dengan pemikiran-pemikiran logis. Apalagi di zaman sekarang yang semua orang mesti mencari sisi logis dari satu peristiwa ganjil.

“Seperti saat saya pernah dengar cerita dari Tito Asmara Hadi, anaknya Asmarahadi yang jadi murid ideologis Soekarno. Dia menikahi Ratna Djuami, anak angkat Soekarno dari istri (pertama Soekarno) Inggit (Garnasih). Cerita soal dia (Asmara Hadi) mendampingi Soekarno di Pelabuhan Ratu,” lanjut Roso Daras.

“Dia (Asmara Hadi) itu Islamnya kuat, enggak percaya dengan yang mistik-mistik. Ketika Soekarno di Pelabuhan Ratu, dia berjalan sendiri di batu karang besar dan tiba-tiba ombak tinggi datang seperti tsunami. Tapi setelah itu Soekarno terlihat jalan kembali ke tepi pantai tanpa basah sama sekali,” sambungnya lagi.

“Asmara Hadi menyimpan cerita ini sejak lama sekali. Tapi akhirnya dia ceritakan pada anaknya Tito. Kisah yang kayak begini ini, enggak akan bisa kita mengerti tanpa memahami kehidupan spiritual. Memahami laku spiritualnya, sedikitnya harus paham spiritual itu sendiri. Enggak bisa dipikir logis otak anak-anak kekinian,” tandas Roso Daras.