Menelusuri Jejak Skripsi Presiden Jokowi

Skripsi Joko Widodo (hairicipta.blogspot.co.id)
Soreini.com - Dewasa ini, mencuat kabar miring tentang foto-foto keaslian Presiden Joko Widodo. Beragam kecaman, sindiran dan bermacam-macam pendapat datang silih berganti untuk memberikan penilaian negatif kepada Presiden ke 7 Republik Indonesia ini.

Soreini menelusuri, ada catatan seorang blogger yang mengulas skripsi Joko Widodo. Mulai dari pemilihan judul, hingga apa yang melatarbelakangi pemilihan Judul skripsi.

Dalam blognya, dengan alamat hairicipta.blogspot.co.id, ditampilkan juga beberapa foto sampul skripsi Joko Widodo, posting artikel berjudul "Mengintip Skripsi Jokowi" dipublikasikan pada 3 April 2013 yang lalu.

Soreini, Minggu dini hari, 15 Januari 2017 mencoba untuk memberikan informasi utuh yang bersumber dari Blogger, karena informasi dari Blogger lebih sedikit kepentingan.

Blogger dengan nama akun, Hairi Cipta memindai Buku Alumni Fakultas Kehutanan UGM 1957- Februari 1988,  dia menemukan informasi bahwa Joko Widodo masuk ke Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 1980.

Menurut Hair Cipta, pada saat itu sektor kehutanan sedang dalam masa-masa kejayaannya, sehingga menjadi hal wajar jika ada banyak calon mahasiswa yang memilih Fakultas Kehutanan.

Apa Alasan Joko Widodo Memilih Kuliah di Fakultas Teknologi Hasil Hutan


Hairi dalam tulisan di Blognya membeberkan langkah-langkah yang dijalani untuk menelusuri keberadaan Skripsi yang ditulis Joko Widodo.

"Sebenarnya tidak begitu sulit untuk menelusuri lokasi tempat skripsi yang ditulis oleh Jokowi berada," tulis Hari di Blognya.

Dia membongkar skripsi di lemari yang menampung skripsi-skripsi di bawah tahun 1990. 

"Jangan bayangkan skripsi Jokowi itu sudah berdebu atau lapuk dimakan rayap. Skripsi yang bersampul warna hijau lumut dengan huruf keemasan itu masih dalam kondisi baik meskipun sudah nampak lusuh," tulisnya.

Dengan sekejap, Hairi mendapatkan informasi, judul skripsi yang ditulis oleh seorang mahasiswa bernama Joko Widodo dengan nomor mahasiswa 1681/Kt pada tahun 1985 adalah “Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis Pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta”. 

Joko Widodo dibimbing oleh Prof. Achmad Sumitro yang sekarang sudah purna tugas. "Hanya saja dulu masih menjadi mahasiswa dan masih lebih muda," tulisnya.

Industri Kayu Lapis Berkembang Pesat


Studi Jokowi dilatarbelakangi atas kondisi industri kayu lapis yang pada waktu itu sedang berkembang pesat. Ditambah lagi, diterbitkan Surat Keputusan Bersama tahun 1980 yang mengharuskan perusahaan HPH agar membangun industri perkayuan yang berintikan kayu lapis dan membatasi ekspor kayu bulat atau log. 

Persoalan ini menggelitik Jokowi untuk melihat kondisi pasar baik dalam negeri maupun luar negeri, agar dapat membantu produsen dalam menentukan kebijakan produksi serta pemasaran kayu lapis. 

Studi Jokowi diarahkan untuk melihat pola konsumsi kayu lapis. Keterbatasan-keterbatasan yang ada membuat Jokowi memfokuskan studi untuk mengetahui pola konsumsi kayu lapis di Kotamadya Surakarta. 

Saat itu, tulis Hairi, Jokowi juga mencoba meramalkan konsumsi kayu lapis di Kotamadya Surakarta untuk tahun-tahun yang akan datang.

Nampaknya Jokowi sudah sangat cinta dengan Surakarta atau kita banyak menyebutnya Kota Solo. Jokowi dilahirkan di Solo, besar di Solo, sekolah di Solo hingga SMA, mengambil data skripsi di Solo, dan yang paling fenomenal menjadi orang no.1 di Kota Solo.

Jokowi mengasumsikan konsumsi kayu lapis pada pemakaian akhir di Solo terdiri dari bangunan rumah tembok, industri mebel, industri gitar, dan juga aneka penggunaan lain. 

Pastilah tidak mungkin Jokowi mencari semua data itu sendiri, melainkan melalui instansi-instansi yang ada dan mengambil sejumlah sampel yang disurvei secara langsung. Untuk meramalkan konsumsi kayu lapis, Jokowi menggunakan data-data perkembangan jumlah KK (Kepala Keluarga) dan pendapatan per kapita penduduk Kota Solo.

Studi-studi semacam ini memang lazim dilaksanakan di Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Jurusan Teknologi Hasil Hutan merupakan salah satu bagian dari ilmu kehutanan yang banyak membahas bagaimana hasil hutan dapat diolah secara efektif dan efisien agar bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan, bukan sekedar keinginan hidup.

Jurusan Teknologi Hasil Hutan berupaya terus mengikuti perkembangan kondisi kehutanan saat ini di mana persediaan bahan baku makin terbatas dan semakin banyak kawasan hutan yang gundul. Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah industri kayu. 

Untuk produk hasil hutan itu sendiri, ada yang berasal kayu dan juga non kayu. Produk-produk yang berasal dari kayu sudah banyak kita kenal, seperti kertas, kayu lapis, rayon(salah satunya untuk bahan tekstil), balok atau papan untuk bangunan, kerajinan, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk non kayu dapat berupa bahan kosmetik dan bahan campuran cat yang bisa diperoleh dari getah, madu, bambu, dan masih sangat banyak lagi.

Skripsi pada tahun-tahun belakangan ini sudah jarang yang mengambil topik seperti topik yang diambil Jokowi. Kebanyakan skripsi di Teknologi Hasil Hutan (yang sekarang bukan lagi jurusan melainkan menjadi bagian atau semacam konsentrasi studi) UGM lebih banyak dilakukan di laboratorium. 

Studi yang diambil belakangan ini biasanya berkaitan dengan kecocokan penggunaan kayu untuk berbagai keperluan, pembuatan produk berbahan limbah kayu, penelitian sifat kayu, pengawetan kayu, pemanfaatan hasil hutan non kayu dan lain-lain.

Hairi menilai, topik yang diambil Jokowi, sejak bangku kuliah Jokowi sudah mulai memperhatikan perkembangan industri kayu di kota Solo. 

Sumber: Blog Hairi Cipta

Terimakasih telah membaca soreini, silahkan tinggalkan komen

Click to comment