Angkringan, Sejarah Melawan Kemiskinan



Soreini.com - Sebuah warung kecil dengan gerobak, ditutup kain terpal, dan diterangi lampu sentir yang sekarang diganti dengan neon 5 watt. Orang menyebut dengan Angkringan, dalam istilah lain juga di sebut kucingan, dan juga disebut dengan hik. Dalam masing-masing penyebutan memiliki filosofi yang sama.


Angkringan, berarti tempat nongkrong, pada zaman dahulu angkringan merupakan tempat peristirahatan rakyat kecil, seperti buruh, sopir tukang becak dan lain-lain.
Kucingan, artinya tempat kucing, kucing merupakan penyebutan dari nasi bungkus kecil (digambarkan porsi kucing), sego kucing  nasi kucing merupakan menu khas angkringan yang memang sengaja dibuat dengan harga serba murah.
Hik, Hidangan Istimewa Kampung, 

Angkringan sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1950, dari waktu -kewaktu angkringan sangat melekat dengan orang-orang miskin. Karena semua yang dijual adalah makanan rakyat yang murah sehingga bisa dijangkau oleh kalangan menengah bawah. 

Dari kalangan buruh, tukang becah, sopir angkringan mulai digemari kalangan pelajar dan mahasiswa. Semakin perjalanan waktu angkringan menjadi kuliner rakyat yang mampu menjangkau semua segmen bahkan para pengusaha sukses hingga pejabat. 

Kepopuleran angkringan bukan hanya sebuah cerita sejarah dari angkringan itu sendiri, namun juga menyimpan sejarah bagi pelanggan, dalam prosen melawan kemiskinan. Hal tersebut yang menjadikan angkringan semakin diterima oleh banyak kalangan. 

Terimakasih telah membaca soreini, silahkan tinggalkan komen

Click to comment